Postingan

Citraan Mr. Hua Wei dalam Diri Tuan Luhut Binsar Pandjaitan

Gambar
                                                                   Mr. Hua Wei merupakan cerpen Cina yang ditulis oleh Zhang Tianyi dan terbit tahun 1938. Berkisah tentang seorang pria bernama Mr. Hua Wei, seorang aktivis pergerakan resistensi melawan invasi Jepang. Mr. Hua Wei dikisahkan memiliki organisasi yang sangat banyak. Dalam sehari, ia memiliki agenda rapat lebih dari satu. Karena organisasi/urusan yang sangat banyak itulah, Mr. Hua Wei hanya bisa menghadiri rapat sebentar, lalu bergegas menuju rapat yang lain, dan datang terlambat di rapat tersebut.           Dalam rapat Refugees Relief Association , Mr. Hua Wei hanya mengikutinya sel ama 10 menit. Mr. Hua Wei memotong pembacaan laporan Chairman L iu. Mr. Hua Wei mengatakan bahwa ia tidak punya banyak waktu kar...

Memoria Passionis

Gambar
Oleh: Heri ST                                          Usiaku baru 10 tahun ketika alat-alat berat mulai berdatangan menggempur tanah Boven Digoel. Aku belum pernah menyaksikan benda semacam itu. Rodanya besar, kokoh, menggilas permukaan bumi dengan buas. Bunyi derum mesin membelah keheningan belantara. Semua menuju satu titik – yang beberapa hari lalu disurvei oleh mereka – di pangkal hutan. Aku tak bisa melihat lebih jauh lagi, sebab puluhan tentara dan polisi berjaga, lengkap dengan popor senjata api. Aku masih terlalu bodoh untuk mengenali peristiwa itu. Selama ini aku hanya mengenal Auyu sebagai sebuah kedamaian tanpa tepi. Sayap-sayap burung membelah angkasa, lalu kaki kecilnya hinggap mencengkeram batang matoa. Bunyi pemburu mengejar babi hutan. Tanah dingin dan becek bercipratan dihentak kaki kijang. Atau tetes air yang jatuh dari pucuk daun, lalu tersangkut di ...

Sasaran Ketiga Belas

Oleh : Heri ST Mata laki-laki tua itu melotot. Sebelum pipinya mengendur. Darah muncrat dari keningnya yang hitam. Seorang laki-laki muda membuka penutup wajahnya. Lalu membanting pistol ke perut sang korban. Dia berbalik dan duduk di meja makan. Hujan turun lebih deras.. *** Sejak Soeharto mundur dari jabatan, hidup tak kunjung berubah. Kusno masih menjalani profesi lama. Sebagai pembunuh bayaran. Selain karena susahnya cari kerja, ia juga merasa tak perlu susah payah menghidupi diri. Hidupnya bisa diatur hanya dengan menghentikan hidup orang lain. Kematian adalah denyut nadi untuk hidupnya. Sekali membunuh, ia bisa bertahan hidup untuk satu atau dua tahun. Kalaulah ia bisa lebih hemat –tak perlu lagi berjudi atau sewa PSK—pasti uang bayarannya sudah cukup untuk bekal sepanjang hidup. Dia tak perlu lagi membunuh untuk ketiga belas kalinya. Kusno sudah berjanji. Ia tak akan membunuh lebih dari tiga belas kali. Entah berjanji pada Tuhan, atau berjanji pada dirinya se...

RESENSI NOVEL SEPERTI DENDAM, RINDU HARUS DIBAYAR TUNTAS KARANGAN EKA KURNIAWAN :KONSTRUKSI TOKOH PEREMPUAN DALAM MELAWAN BUDAYA PATRIARKI

Oleh: Heri Samtani Departemen Susastra, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia Kehidupan sosial tidak pernah lepas dari wacana kolonialisme, relasi kuasa, budaya patriarki, dan isu sosial lainnya, termasuk persoalan gender.  Hal ini terefleksi lewat karya sastra. Isu kesetaraan gender menjadi topik menarik di kalangan sastrawan perempuan. Sebagai dampak dari feminisme gelombang kedua yang merambah di ranah sastra, bermunculan karya sastra yang berhaluan resistensi terhadap budaya patriarki. Di Indonesia, isu gender yang mengedepankan aspek feminism terdapat pada karya-karya Ayu Utami, antara lain: Saman (1998), Larung (2001), Bilangan Fu (2008), Djenar Maesa Ayu: Mereka Bilang, Saya Monyet (2002), Nayla (2005), 1 Perempuan 14 Laki-laki (2011), Ratna Indraswari: Cerpen Perempuan Itu Cantik (1992), Baju (2004), Laksmi Pamuntjak: Amba (2012), Aruna dan Lidahnya (2014), dan Leila S. Chudori: Pulang (2013). Nenden (2012: 114), seorang akademisi sastra menga...

Serenade di Musim Dingin :Bacaan Nostalgia Aktivis Dakwah

“Jangan lemah karena masalah-masalah pribadi. Setiap orang pasti punya masalah. Tapi, jangan biarkan masalah itu ikut bercokol menggerogoti bangunan dakwah.”  (SDMD, 139-140) Novel Serenade di Musim Dingin merupakan gubahan baru dari Novel Metafora Sunyi karangan Heri ST. Novel ini berlatar tempat di Universitas Negeri Jakarta di tahun 2012. Serenade di Musim Dingin mengungkap realita kehidupan di kalangan anak rohis, aktivis lembaga dakwah. Mulai dari masalah persahabatan, organisasi, keluarga, dan isu sosial. Serenade di Musim Dingin berkisah tentang tiga sahabat yang terlibat dalam satu organisasi. Kisah dimulai ketika Karim (mahasiswa Bahasa Arab) bertemu dengan teman masa kecilnya, bernama Shafira (mahasiswi Seni Musik). Melihat perubahan sikap Karim, Shafira menjadi kecewa dan tidak nyaman, karena Karim dinilai lebih kaku, dan terlalu fanatik pada keIslamannya. Di tengah persahabatan mereka, muncul Nina, mahasiswi jurusan bahasa dan sastra Indonesia. Persahabatan ...

SUPERIORITAS TOKOH-TOKOH PRIA DALAM CERPEN BAJU KARANGAN RATNA INDRASWARI, PUISI PENGAKUAN PARIYEM KARANGAN LINUS SURYADI AG, DAN NOVEL BUMI MANUSIA KARANGAN PRAMOEDYA ANANTA TOER DENGAN PENDEKATAN DEKONSTRUKSI

Oleh : Heri Samtani Mahasiswa S2 Susastra Universitas Indonesia Entitas gender selalu menjadi hal menarik dalam khazanah sastra Indonesia. Begitu banyak karya sastra yang menyinggung persoalan gender. Sebab, sejak dahulu sampai dengan hari ini, isu patriarki telah mendarah daging sebagai budaya yang lahir di tengah-tengah masyarakat. Kontruksi sosial yang turun temurun telah membentuk hierarki sosial antara laki-laki dan perempuan. Dikotomi antara superior dengan inferior, kuat dan lemah, serta penindas dan tertindas. Suara hati perempuan dapat diungkapkan lewat genre puisi, prosa, dan drama. Naluri batin wanita Jawa sangat luwes diungkapkan oleh Linus Suryadi AG., lewat karyanya berjudul Pengakuan Pariyem. Di lain genre, ada Cerpen Baju karangan Ratna Indraswari yang pernah terbit di harian Kompas. Cerpen ini merupakan sebuah dekontruksi karakter Drupadi yang begitu apik dan lantang diceritakan oleh Ratna Indraswari. Bicara soal entitas gender, tentu menarik pula jika membah...